03 September 2008

Renungan 3 September 2008


"Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."

Bacaan :
  • 1Kor 3:1-9;
  • Luk 4:38-44
"Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.

Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea" (Luk 4:38-44),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Gregorius Agung adalah gembala umat dan negarawan ulung. Ia mendirikan biara-biara serta mengutus anggota-anggota tarekat yang bersangkutan menjadi misionaris, menulis buku dan homili yang bagus, mendamaikan yang bermusuhan, dst.. Ia sungguh memberitakan Injil Kerajaan Allah' di dalam melaksanakan dan menghayati panggilan serta tugas perutusannya. Gregorius Agung juga gembala yang menghayati panggilannya sebagai `servus servorum Dei' ( hamba dari para hamba Tuhan), yang kemudian menjadi motto dari para paus berikutnya sampai kini. Kiranya kita semua juga dipanggil untuk "memberitakan Injil Kerajaan Allah", dengan rendah hati, semangat melayani tanpa kenal lelah. `Injil Kerajaan Allah' berarti warta atau kabar gembira, maka melalui hidup dan kerja kita semua dipanggil untuk senantiasa menggembirakan orang lain, siapapun yang hidup bersama kita atau kita jumpai. Memang untuk itu pertama-tama kita sendiri harus selamat atau gembira; dalam keadaan gembira berarti sehat wal'afiat, bergairah, penuh harapan, dinamis, selalu senyum dst.., dan dengan demikian kita akan tahan atau kebal terhadap aneka ancaman dan serangan virus penyakit.

Kegembiraan ini sangat penting dalam proses pendidikan atau pembelajaran baik di dalam keluarga maupun di sekolah. "Para guru hendaknya menjadikan ruangan kelas lebih menyenangkan. Mereka cukup membantu para siswa agar mengetahui bagaimana caranya belajar dan menganalisa, belajar secara mandiri, , mengatur pengalaman-pengalamannya yang nyata, dan memberikan respons pada apa yang ingin dipelajari oleh para siswa dan kebutuhan belajar mereka" (Rung Kaewdang Ph.D: Suatu Cara Reformasi Pembelajaran yang mangkus, BELAJAR DARI MONYET, Grasindo – Jakarta 2002, hal 71). Untuk itu guru atau pendidik memang harus rendah hati, berjiwa melayani; hal yang sama hemat saya juga perlu dihayati oleh orangtua dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya.

• "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan" (1Kor 3:6-7), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Yang menanam atau menyiram, bapak atau ibu, guru/pendidik, gembala (pemimpin, pastor, ketua dst..) adalah pelayan-pelayan atau pekerja-pekerja yang hina, pekerjasama-pekerjasama Allah yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan. `Menanam' dalam arti hanya menaruh atau menancapkan kiranya mudah tetapi `menyiram'dalam arti merawat dan mengurus rasanya sulit, sarat dengan tantangan dan hambatan.

Banyak orang dengan mudah menanam (membeli, menghamili, dst..) tetapi tidak dapat merawat atau mengurus dengan baik apa yang telah ditanam. Merawat dan mengurus segala sesuatu, lebih-lebih yang hidup seperti manusia, tanaman dan binatang, hemat saya perlu dijiwai oleh cintakasih dan kerendahan hati. Entah manusia, tanaman atau binatang `diadakan' dalam dan oleh cintakasih dan kerendahan hati, maka hanya akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik jika senantiasa `disirami' dengan cintakasih dan kerendahan hati. Pengalaman `menyiram' (merawat dan mengurus) dengan baik kiranya telah terjadi dalam diri para ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak-anaknya, maka baiklah jika para ibu atau perempuan dapat menjadi teladan dalam perawatan dan pengurusan segala sesuatu dengan baik. Perawatan dan pengurusan yang baik antara lain akan berbuah `penghematan' serta aneka macam keutamaan yang pada gilirannya akan mendukung untuk menjadi perawat atau pengurus yang handal.

"Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka" (Mzm 33:12-15)

Jakarta, 3 September 2008


Sumber : rm_maryo

0 Komentar:

Post a Comment

Setelah dibaca apa anda punya komentar untuk artikel diatas ?
Jika anda merasa tersentuh, terinspirasi, termotivasi dengan artikel ini bagikan bersama kami dengan meninggalkan pesan, kesan atau komentar apa saja.

Semoga komentar anda dapat menjadi semangat bagi yang lainnya.

 

Klinik Rohani Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template