14 April 2009

Mencari Yang Hilang


Yesus menceritakan banyak perumpamaan tentang orang-orang yang mencari apa yang telah hilang, seperti seorang gembala yang memiliki sembilan puluh sembilan domba di padang dan pergi di tengah hujan untuk mencari satu yang tersesat, juga seorang ayah yang menunggu di penghujung jalan, menatap horison setiap hari demi anaknya laki-laki yang telah hilang. Semua ilustrasi alkitabiah menunjukkan betapa penting arti dari pencarian manusia.

Pada sebuah acara World Forum di San Fransisco, saya bertemu dengan seorang biksu Budha Katolik dari Kamboja. (Menurut penjelasannya, tidak ada k
onflik dalam menjadi seorang Katolik dan sekaligus seorang Budha, karena “Kekatolikan adalah sebuah agama, sementara Budha adalah sebuah ilmu pengetahuan.”)

Pada saat kami sedang berbincang-bincang, saya bertanya kepadanya bagaimana ia akhirnya dapat tiba di Kamboja. Tampaknya bahwa sementara ia sedang berjalan menuju kantor imigrasi di San Fransisco, ia melewati sebuah perkemahan pengungsi Kamboja. Seorang wanita sedang menangis meraung-raung dan memukul-mukulkan dirinya sendiri ke arah pagar, lalu ia pergi untuk melihat apakah permasalahannya.

Ia menarik sebuah foto anak kecil berumur 2 tahun dan di sela-sela isakannya ia menjelaskan bahwa desakan dan tubrukan orang banyak yang berlarian menuju kapal-kapal boat telah membuatnya terpisah dari anak gadisnya yang masih kecil.

Setelah melakukan pencarian di sekitar perkemahan, ia mengetahui bahwa anaknya tidak berada di sana, dan ia tidak tahu apakah ia sendirian akan mampu menemukan anaknya lagi.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya saya kepadanya.

Ia berkata, “Saya berjanji bahwa saya akan menemukannya.”

“Kamu lakukan itu?” tanya saya.

“Ya,” jawabnya.

“Di mana?” tanya saya lagi. “Di Kamboja.”

“Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk menemukannya?” lanjut saya.

“Dua tahun,” jawabnya.

“Dua tahun!” pekik saya.

“Bagaimana kamu dapat menemukannya?”

“Saya membawa foto anak itu, dan berjalan dari desa ke desa.”

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya saya.

“Itulah pekerjaan saya,” dengan tenang ia menjawab. Kemudian ia berbalik dan memperkenalkan saya pada seorang teman yang duduk di sebelahnya, dan itulah akhir dari perbincangan kami.

Saya bertanya-tanya mengenai jenis tugas apakah yang akan kita miliki, apabila “mencari yang hilang” adalah satu-satunya pekerjaan kita. Apa yang akan kita cari? Mencari Yang Hilang

Yesus berkata, “Selama Aku bersama mereka, aku memelihara mereka dalam namaMu, ... Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa ...” (Yohanes 17:12)

Yesus pergi untuk mencari yang hilang.

(Laurie Beth Jones - Jesus in Blue Jeans)
sumber : http://www.mkif-online.de/



Klinik Rohani Links :
http://www.klinikrohani.com/

2 Komentar:

Anonymous said...

ayat ini selalu menjadi ayat favorit saya...menyedihkan mengingat mama saya dikucilkan dari gereja karena menikah lagi setelah ditinggalkan papa menikah lagi selama 8 tahun.mama sosok religius yang selalu aktif dalam pelayanan akhirnya harus hidup terkucilkan karena memilih untuk mengakhiri kesendiriannya..di mataku, mama adalah salah satu domba yang yang hilang..namun sedih saat kukatakan pada seorang romo, romo itu menjawab mama adalah salah satu domba yang menyesatkan dirinya.bukan domba yang hilang..pahit..memang..tapi itu tidak membuatku berhenti berharap suatu hari nanti ada seorang gembala Tuhan yang penuh kasih yang mau mencari mama kembali dan menemukan dia bagi Yesus.hal ini tidak membuatku berhenti mencintai gerejaku.yang aku selalu doakan..semoga romo2 selalu diberikan hati yang bijaksana dan cinta kasih yang selalu berkobar.bagi mama.aku akan selalu mendoakannya..hanya itu yang bisa aku lakukan..dan tidak akan pernah berhenti berharap akan kasih setia Yesus itu sendiri.

Anonymous said...

memang! Allah itu luar biasa. ia dapat mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepadaNya. itu hebatnya Allah orang Kristiani. melalui putraNya, ia datang bukan untuk menyelamatkan orang benar tetapi Ia datang untuk menyelamatkan orang yang berdosa.
Apakah kita juga bisa mengikutiNya. Mengampuni orang yang bersalah kepada kita?

Post a Comment

Setelah dibaca apa anda punya komentar untuk artikel diatas ?
Jika anda merasa tersentuh, terinspirasi, termotivasi dengan artikel ini bagikan bersama kami dengan meninggalkan pesan, kesan atau komentar apa saja.

Semoga komentar anda dapat menjadi semangat bagi yang lainnya.

 

Klinik Rohani Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template